REAKSI SUBSTITUSI DAN REAKSI ELIMINASI
Oktober 15, 2017REAKSI SUBSTITUSI DAN REAKSI ELIMINASI
Reaksi Substitusi pada Senyawa Karbon
Senyawa karbon adalah senyawa yang umumnya mengandung atom karbon, hidrogen dan oksigen, serta beberapa atom lainnya seperti nitrogen, fosfor, belerang dan sebagainya.
Karena khas, senyawa karbon mengalami reaksi – reaksi tertentu yang umumny tidak terjadi pada senyawa lain. Reaksi ini terdiri dari tiga macam yaitu :
- Reaksi substitusi
- Reaksi eliminasi
- Reaksi adisi
Dalam artikel ini yang akan kita bahas adalah reaksi substitusi pada senyawa karbon. Beriut adalah penjelasan lengkapnya!
Reaksi Substitusi
Reaksi substitusi sering juga disebut dengan reaksi pergantian karena memang pada prinsipnya reaksi ini adalah reaksi penggantian atom atau gugus atom dengan atom atau gugus atom yang lain.
Pada reaksi ini, ada atom atau gugus atom yang terikat dan ada yang lepas. Senyawa karbon yang mengalami reaksi ini adalah sebagai berikut :
Reaksi antara alkana + halogen
Alkana (R-H) bereaksi substitusi dengan halogen (X2) dengan bantuan sinar ultra violet menghasilkan senyawa haloalkana (RX).
Rumus umum :
R – X + X – X → R – X + H – X
Keterangan :
R = alkil yang berikatan tunggal (CnH2n+2)
X = unsur halogen (F, Cl, Br atau I)
Pada reaksi substitusi diatas, atom H pada alkanan digantikan oleh atom X pada halogen.
Contoh :Propana + gas klor menghasilkan kloropropana + asam klorida
Reaksi haloalkana (RX) + logam natrium menghasilkan senyawa alkana dengan rantai karbon yang lebih panjang.
Rumus umum :
2R – X + 2Na → R – R + 2NaX
Keterangan :
2R – X = maksudnya adalah ada 2 buah senyawa haloalkana yang mempunyai gugus R nya adalah sama atau berbeda.
Contoh :
Yang gugus R nya sama
2CH3CH2 – Br + 2Na → CH3CH2CH2CH3 + 2NaBr
Bromo etana Butana
Yang gugus R nya berbeda
CH3 – Cl + CH3CH2CH2 – Cl + 2Na → CH3CH2CH2CH3 + 2NaCl
Kloro metana kloro propnana Butana
Pada reaksi kedua ini, selain dihasilkan senyawa butana (R – R’) sebagai produk utama juga dihasilkan senyawa lain sebagai produk samping yaitu R – R (CH3 – CH3) dan R’ – R’ (CH3CH2CH2CH2CH2CH3). Namun produk samping ini jumlahnya sedikit dibandingkan produk lainnya, sehingga biasanya pada persamaan reaksi tidak dituliskan.
Reaksi – reaksi antara haloalkanan/alkil halida dengan logam dikenal juga dengan reaksi sintesis Wurtz.
Reaksi antara haloalkana (R – X) dengan basa seperti KOH dan NaOH menghasilkan senyawa alkohol/alkanol
Rumus umum :
R – X + NaOH → R – OH + NaX
Contoh :
CH3CH2 – Cl + NaOH → CH3CH2 – OH + NaCl
Kloroetana etanol
CH3CH2CHCH3 + KOH → CH3CH2CHCH3 + KBr
| |
Br OH
2-bromobutana 2-butanol
Reaksi alkohol (R – OH) dengan logan natrium menghasilkan senyawa alkoksida (R – ONa) dan gas hidrogen.
Rumus umum :
R – OH + Na → R – ONa + ½ H2
Contoh :
Reaksi etanol + natrium
CH3CH2OH + Na → CH3CH2ONa + ½ H2
Senyawa alkoksida yang dihasilkan dari reaksi ini bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan eter.
Reaksi alkohol ( R – OH) dengan fosfor pentaklorida (PCl5) menghasilkan suatu alkil halida.
Rumus umum :
R – OH + PCl5 → R – Cl + PCl3 + HCl
Contoh:
CH3CH2OH + PCl5 → CH3CH2 – Cl + PCl3 + HCl
Pembebasan hidrogen klorida (HCl) dari reaksi alkohol dan PCl5 adala sifat khas yang biasanya digunakan untuk identifikasi ada atau tidaknya gugus OH dalam suatu senyawa.
Reaksi natrium alkoksida (R – ONa) dengan alkil halida (R – X) dalam alkohol akan menghasilkan senyawa eter.
Rumus umum :
R – ONa + R’ – X → R – O – R’ + NaX
Sama seperti reaksi nomor 2, jika R dan R’ adalah alkil yang sama maka akan dihasilkan senyawa ester sederhana. Tetapi jika R dan R’ nya berbeda, produk yang terbentuk adalah produk campuran.
Contoh :
Jika R dan R’nya sama
CH3 – ONa + CH3 – F → CH3 – O – CH3 + NaF
Jika R dan R’ nya berbeda
CH3CH2 – ONa + CH3 – Cl → CH3CH2 – O – CH3 + NaCl
Natrium etoksida klorometana etil metil eter
Produk utama yang
dihasilkan lebih banyak
Reaksi yang kedua ini sering juga disebut dengan reaksi sintesis Williamson.
REAKSI ELIMINASI
Eliminasi artinya pelepasan atau penghilangan. Reaksi eliminasi dapat dianggap kebalikan dari reaksi adisi. Pada reaksi ini, dua atom atau gugus yang masing-masing terikat pada dua buah atom C yang letaknya berdampingan dilepaskan oleh suatu pereaksi sehingga menghasilkan ikatan rangkap. Reaksi ini hanya dapat berlangsung bila ada zat yang menarik molekul yang akan dieliminasi. Reaksi eliminasi digunakan untuk membuat senyawa-senyawa alkena dan alkuna. Sebaga contoh adalah reaksi pembuatan etena dari etanol.

Reaksi Eliminasi adalah suatu jenis reaksi organik dimana dua substituen dilepaskan dari sebuah molekul baik dalam satu atau dua langkah mekanisme, atau dapat disebut juga penyingkiran atau penghilangan beberapa atom yang terjadi pada suatu senyawa. Pada reaksi ini senyawa yang berikatan tunggal berubah menjadi ikatan rangkap.

Reaksi satu langkah disebut dengan reaksi E2. Sedangkan reaksi dua langkah disebut dengan reaksi E1. Harap diingat bahwa symbol angka pada huruf E (yang berarti elimination) tidak melambangkan jumlah langkah. E2 dan E1 menyatakan kinetika reaksi, yaitu berturut-turut bimolekuler dan unimolekuler.
Reaksi E1
Reaksi E1 adalah reaksi eliminasi dimana suatu karbokation (suatu zat antara yang tak stabil dan berenergi tinggi, yang dengan segera bereaksi lebih lanjut) dapat memberikan sebuah proton kepada suatu basa dan menghasilkan sebuah alkena. Pada reaksi SN1, salah satu cara karbokation mencapai produk yang stabil ialah dengan bereaksi dengan sebuah nukleofil.
Karbokation adalah suatu zat antara yang tak stabil dan berenergi tinggi. Karbokation memberikan kepada basa sebuah proton dalam reaksi eliminasi, dalam hal ini reaksi E1 menjadi sebuah alkena.
Mekanisme E1
Tahap 1 (lambat)
Pertama dalam reaksi eliminasi adalah tahap lambat dan merupakan tahap penentu laju dari reaksi keseluruhan. Suatu reaksi E1 yang khas menunjukkan kinetika order-pertama, dengan laju reaksi hanya bergantung pada konsentrasi alkil halide saja.
Tahap 2 (cepat)
Dalam tahap dua reaksi eliminasi, basa itu merebut sebuah proton dari sebuah atom karbon yang terletak berdampingan dengan karbon positif. Elektron ikatan sigma karbon hidrogen bergeser ke arah muatan positif, karbon itu mengalami
Rehibridisasi dari keadaan sp3 ke keadaan sp2, dan terbentuklah alkena.
Karena suatu reaksi E1 berlangsung lewat zat antara karbokation, maka tidak mengherankan bahwa alkil halida tersier lebih cepat daripada alkil halida lain.
REAKSI E2
Reaksi E2 (eliminasi bimolekular) ialah reaksi eliminasi alkil halida yang paling berguna. Reaksi E2 alkil halida cenderung dominan bila digunakan basa kuat, seperti –OH dan–OR, dan temperatur tinggi. Secara khas reaksi E2 dilaksanakan dengan memanaskan alkil halida dengan K+ -OH / Na+ -OCH2CH3 dalam etanol.
Reaksi E2 berjalan tidak lewat suatu karbokation sebagai zat-antara, melainkan berupareaksi serempak (concerted reaction) yakni terjadi pada satu tahap, sama seperti reaksi SN2.
- Basa membentuk ikatan dengan hidrogen
- Elektron-elektron C-H membentuk ikatan pi
- Brom bersama sepasang elektronnya meninggalkan ikatan sigma C-Br.
Persamaan diatas menunjukkan mekanisme, dengan anak panah bengkok menyatakan “pendorongan elektron” (electron-pushing).
Dalam reaksi E2, seperti dalam reaksi E1, alkil halida tersier bereaksi paling cepat dan alkil halida primer paling lambat. (Bila diolah dengan suatu basa, alkil halide primer biasanya begitu mudah bereaksi substitusi, sehingga sedikit alkena terbentuk)
Perbedaan antara mekanisme eliminasi E1 dan E2
E1
1. membentuk karbokation
2. karbokation memberi proton pada basa lalu terbentuk alkena
3. basa merebut proton dari atom C (beta, C yang berdampingan dengan C+)
E2
1. nukleofil langsung mengambil proton dari atom C (beta) pada atom C gugus pergi
2. tidak terjadi pembentukan karbokation
3. pembentukan secara serempak
Perbandingan E1 dan E2
E1
terjadi pada:
1. konsentrasi basa rendah
2. dengan pelarut basa
3. dengan substrat tersier dan beresonansi (alkil halida)
E2
terjadi pada:
1. pada basa kuat dengan konsentrasi tinggi
· Alkil halida+basa kuat+panas à E2
· Alkil halida+asam kuat+panas àE1
· Alkohol+asam kuat+panas à E1
Senyawa karbon adalah senyawa yang umumnya mengandung atom karbon, hidrogen dan oksigen, serta beberapa atom lainnya seperti nitrogen, fosfor, belerang dan sebagainya.
Karena khas, senyawa karbon mengalami reaksi – reaksi tertentu yang umumny tidak terjadi pada senyawa lain. Reaksi ini terdiri dari tiga macam yaitu :
Reaksi Substitusi
Reaksi substitusi sering juga disebut dengan reaksi pergantian karena memang pada prinsipnya reaksi ini adalah reaksi penggantian atom atau gugus atom dengan atom atau gugus atom yang lain.
Pada reaksi ini, ada atom atau gugus atom yang terikat dan ada yang lepas. Senyawa karbon yang mengalami reaksi ini adalah sebagai berikut :
Reaksi antara alkana + halogen
Alkana (R-H) bereaksi substitusi dengan halogen (X2) dengan bantuan sinar ultra violet menghasilkan senyawa haloalkana (RX).
Rumus umum :
R – X + X – X → R – X + H – X
Keterangan :
R = alkil yang berikatan tunggal (CnH2n+2)
X = unsur halogen (F, Cl, Br atau I)
Pada reaksi substitusi diatas, atom H pada alkanan digantikan oleh atom X pada halogen.
Contoh :Propana + gas klor menghasilkan kloropropana + asam klorida Reaksi haloalkana (RX) + logam natrium menghasilkan senyawa alkana dengan rantai karbon yang lebih panjang.
Rumus umum :
2R – X + 2Na → R – R + 2NaX
Keterangan :
2R – X = maksudnya adalah ada 2 buah senyawa haloalkana yang mempunyai gugus R nya adalah sama atau berbeda.
Contoh :
Yang gugus R nya sama
2CH3CH2 – Br + 2Na → CH3CH2CH2CH3 + 2NaBr
Bromo etana Butana
Yang gugus R nya berbeda
CH3 – Cl + CH3CH2CH2 – Cl + 2Na → CH3CH2CH2CH3 + 2NaCl
Kloro metana kloro propnana Butana
Pada reaksi kedua ini, selain dihasilkan senyawa butana (R – R’) sebagai produk utama juga dihasilkan senyawa lain sebagai produk samping yaitu R – R (CH3 – CH3) dan R’ – R’ (CH3CH2CH2CH2CH2CH3). Namun produk samping ini jumlahnya sedikit dibandingkan produk lainnya, sehingga biasanya pada persamaan reaksi tidak dituliskan.
Reaksi – reaksi antara haloalkanan/alkil halida dengan logam dikenal juga dengan reaksi sintesis Wurtz.
Reaksi antara haloalkana (R – X) dengan basa seperti KOH dan NaOH menghasilkan senyawa alkohol/alkanol
Rumus umum :
R – X + NaOH → R – OH + NaX
Contoh :
CH3CH2 – Cl + NaOH → CH3CH2 – OH + NaCl
Kloroetana etanol
CH3CH2CHCH3 + KOH → CH3CH2CHCH3 + KBr
| |
Br OH
2-bromobutana 2-butanol
Reaksi alkohol (R – OH) dengan logan natrium menghasilkan senyawa alkoksida (R – ONa) dan gas hidrogen.
Rumus umum :
R – OH + Na → R – ONa + ½ H2
Contoh :
Reaksi etanol + natrium
CH3CH2OH + Na → CH3CH2ONa + ½ H2
Senyawa alkoksida yang dihasilkan dari reaksi ini bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan eter.
Reaksi alkohol ( R – OH) dengan fosfor pentaklorida (PCl5) menghasilkan suatu alkil halida.
Rumus umum :
R – OH + PCl5 → R – Cl + PCl3 + HCl
Contoh:
CH3CH2OH + PCl5 → CH3CH2 – Cl + PCl3 + HCl
Pembebasan hidrogen klorida (HCl) dari reaksi alkohol dan PCl5 adala sifat khas yang biasanya digunakan untuk identifikasi ada atau tidaknya gugus OH dalam suatu senyawa.
Reaksi natrium alkoksida (R – ONa) dengan alkil halida (R – X) dalam alkohol akan menghasilkan senyawa eter.
Rumus umum :
R – ONa + R’ – X → R – O – R’ + NaX
Sama seperti reaksi nomor 2, jika R dan R’ adalah alkil yang sama maka akan dihasilkan senyawa ester sederhana. Tetapi jika R dan R’ nya berbeda, produk yang terbentuk adalah produk campuran.
Contoh :
Jika R dan R’nya sama
CH3 – ONa + CH3 – F → CH3 – O – CH3 + NaF
Jika R dan R’ nya berbeda
CH3CH2 – ONa + CH3 – Cl → CH3CH2 – O – CH3 + NaCl
Natrium etoksida klorometana etil metil eter
Produk utama yang
dihasilkan lebih banyak
Reaksi yang kedua ini sering juga disebut dengan reaksi sintesis Williamson.
Karena khas, senyawa karbon mengalami reaksi – reaksi tertentu yang umumny tidak terjadi pada senyawa lain. Reaksi ini terdiri dari tiga macam yaitu :
- Reaksi substitusi
- Reaksi eliminasi
- Reaksi adisi
Reaksi Substitusi
Reaksi substitusi sering juga disebut dengan reaksi pergantian karena memang pada prinsipnya reaksi ini adalah reaksi penggantian atom atau gugus atom dengan atom atau gugus atom yang lain.
Pada reaksi ini, ada atom atau gugus atom yang terikat dan ada yang lepas. Senyawa karbon yang mengalami reaksi ini adalah sebagai berikut :
Reaksi antara alkana + halogen
Alkana (R-H) bereaksi substitusi dengan halogen (X2) dengan bantuan sinar ultra violet menghasilkan senyawa haloalkana (RX).
Rumus umum :
R – X + X – X → R – X + H – X
Keterangan :
R = alkil yang berikatan tunggal (CnH2n+2)
X = unsur halogen (F, Cl, Br atau I)
Pada reaksi substitusi diatas, atom H pada alkanan digantikan oleh atom X pada halogen.
Contoh :Propana + gas klor menghasilkan kloropropana + asam klorida Reaksi haloalkana (RX) + logam natrium menghasilkan senyawa alkana dengan rantai karbon yang lebih panjang.
Rumus umum :
2R – X + 2Na → R – R + 2NaX
Keterangan :
2R – X = maksudnya adalah ada 2 buah senyawa haloalkana yang mempunyai gugus R nya adalah sama atau berbeda.
Contoh :
Yang gugus R nya sama
2CH3CH2 – Br + 2Na → CH3CH2CH2CH3 + 2NaBr
Bromo etana Butana
Yang gugus R nya berbeda
CH3 – Cl + CH3CH2CH2 – Cl + 2Na → CH3CH2CH2CH3 + 2NaCl
Kloro metana kloro propnana Butana
Pada reaksi kedua ini, selain dihasilkan senyawa butana (R – R’) sebagai produk utama juga dihasilkan senyawa lain sebagai produk samping yaitu R – R (CH3 – CH3) dan R’ – R’ (CH3CH2CH2CH2CH2CH3). Namun produk samping ini jumlahnya sedikit dibandingkan produk lainnya, sehingga biasanya pada persamaan reaksi tidak dituliskan.
Reaksi – reaksi antara haloalkanan/alkil halida dengan logam dikenal juga dengan reaksi sintesis Wurtz.
Reaksi antara haloalkana (R – X) dengan basa seperti KOH dan NaOH menghasilkan senyawa alkohol/alkanol
Rumus umum :
R – X + NaOH → R – OH + NaX
Contoh :
CH3CH2 – Cl + NaOH → CH3CH2 – OH + NaCl
Kloroetana etanol
CH3CH2CHCH3 + KOH → CH3CH2CHCH3 + KBr
| |
Br OH
2-bromobutana 2-butanol
Reaksi alkohol (R – OH) dengan logan natrium menghasilkan senyawa alkoksida (R – ONa) dan gas hidrogen.
Rumus umum :
R – OH + Na → R – ONa + ½ H2
Contoh :
Reaksi etanol + natrium
CH3CH2OH + Na → CH3CH2ONa + ½ H2
Senyawa alkoksida yang dihasilkan dari reaksi ini bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan eter.
Reaksi alkohol ( R – OH) dengan fosfor pentaklorida (PCl5) menghasilkan suatu alkil halida.
Rumus umum :
R – OH + PCl5 → R – Cl + PCl3 + HCl
Contoh:
CH3CH2OH + PCl5 → CH3CH2 – Cl + PCl3 + HCl
Pembebasan hidrogen klorida (HCl) dari reaksi alkohol dan PCl5 adala sifat khas yang biasanya digunakan untuk identifikasi ada atau tidaknya gugus OH dalam suatu senyawa.
Reaksi natrium alkoksida (R – ONa) dengan alkil halida (R – X) dalam alkohol akan menghasilkan senyawa eter.
Rumus umum :
R – ONa + R’ – X → R – O – R’ + NaX
Sama seperti reaksi nomor 2, jika R dan R’ adalah alkil yang sama maka akan dihasilkan senyawa ester sederhana. Tetapi jika R dan R’ nya berbeda, produk yang terbentuk adalah produk campuran.
Contoh :
Jika R dan R’nya sama
CH3 – ONa + CH3 – F → CH3 – O – CH3 + NaF
Jika R dan R’ nya berbeda
CH3CH2 – ONa + CH3 – Cl → CH3CH2 – O – CH3 + NaCl
Natrium etoksida klorometana etil metil eter
Produk utama yang
dihasilkan lebih banyak
Reaksi yang kedua ini sering juga disebut dengan reaksi sintesis Williamson.
REAKSI ELIMINASI
Eliminasi artinya pelepasan atau penghilangan. Reaksi eliminasi dapat dianggap kebalikan dari reaksi adisi. Pada reaksi ini, dua atom atau gugus yang masing-masing terikat pada dua buah atom C yang letaknya berdampingan dilepaskan oleh suatu pereaksi sehingga menghasilkan ikatan rangkap. Reaksi ini hanya dapat berlangsung bila ada zat yang menarik molekul yang akan dieliminasi. Reaksi eliminasi digunakan untuk membuat senyawa-senyawa alkena dan alkuna. Sebaga contoh adalah reaksi pembuatan etena dari etanol.
Reaksi Eliminasi adalah suatu jenis reaksi organik dimana dua substituen dilepaskan dari sebuah molekul baik dalam satu atau dua langkah mekanisme, atau dapat disebut juga penyingkiran atau penghilangan beberapa atom yang terjadi pada suatu senyawa. Pada reaksi ini senyawa yang berikatan tunggal berubah menjadi ikatan rangkap.
Reaksi satu langkah disebut dengan reaksi E2. Sedangkan reaksi dua langkah disebut dengan reaksi E1. Harap diingat bahwa symbol angka pada huruf E (yang berarti elimination) tidak melambangkan jumlah langkah. E2 dan E1 menyatakan kinetika reaksi, yaitu berturut-turut bimolekuler dan unimolekuler.
Reaksi E1
Reaksi E1 adalah reaksi eliminasi dimana suatu karbokation (suatu zat antara yang tak stabil dan berenergi tinggi, yang dengan segera bereaksi lebih lanjut) dapat memberikan sebuah proton kepada suatu basa dan menghasilkan sebuah alkena. Pada reaksi SN1, salah satu cara karbokation mencapai produk yang stabil ialah dengan bereaksi dengan sebuah nukleofil.
Karbokation adalah suatu zat antara yang tak stabil dan berenergi tinggi. Karbokation memberikan kepada basa sebuah proton dalam reaksi eliminasi, dalam hal ini reaksi E1 menjadi sebuah alkena.
Mekanisme E1
Tahap 1 (lambat)
Pertama dalam reaksi eliminasi adalah tahap lambat dan merupakan tahap penentu laju dari reaksi keseluruhan. Suatu reaksi E1 yang khas menunjukkan kinetika order-pertama, dengan laju reaksi hanya bergantung pada konsentrasi alkil halide saja.
Tahap 2 (cepat)
Dalam tahap dua reaksi eliminasi, basa itu merebut sebuah proton dari sebuah atom karbon yang terletak berdampingan dengan karbon positif. Elektron ikatan sigma karbon hidrogen bergeser ke arah muatan positif, karbon itu mengalami
Rehibridisasi dari keadaan sp3 ke keadaan sp2, dan terbentuklah alkena.
Karena suatu reaksi E1 berlangsung lewat zat antara karbokation, maka tidak mengherankan bahwa alkil halida tersier lebih cepat daripada alkil halida lain.
REAKSI E2
Reaksi E2 (eliminasi bimolekular) ialah reaksi eliminasi alkil halida yang paling berguna. Reaksi E2 alkil halida cenderung dominan bila digunakan basa kuat, seperti –OH dan–OR, dan temperatur tinggi. Secara khas reaksi E2 dilaksanakan dengan memanaskan alkil halida dengan K+ -OH / Na+ -OCH2CH3 dalam etanol.
Reaksi E2 berjalan tidak lewat suatu karbokation sebagai zat-antara, melainkan berupareaksi serempak (concerted reaction) yakni terjadi pada satu tahap, sama seperti reaksi SN2.
- Basa membentuk ikatan dengan hidrogen
- Elektron-elektron C-H membentuk ikatan pi
- Brom bersama sepasang elektronnya meninggalkan ikatan sigma C-Br.
Persamaan diatas menunjukkan mekanisme, dengan anak panah bengkok menyatakan “pendorongan elektron” (electron-pushing).
Dalam reaksi E2, seperti dalam reaksi E1, alkil halida tersier bereaksi paling cepat dan alkil halida primer paling lambat. (Bila diolah dengan suatu basa, alkil halide primer biasanya begitu mudah bereaksi substitusi, sehingga sedikit alkena terbentuk)
Perbedaan antara mekanisme eliminasi E1 dan E2
E1
E1
terjadi pada:
terjadi pada:
Perbedaan antara mekanisme eliminasi E1 dan E2
E1
1. membentuk karbokation
2. karbokation memberi proton pada basa lalu terbentuk alkena
3. basa merebut proton dari atom C (beta, C yang berdampingan dengan C+)
E2
1. nukleofil langsung mengambil proton dari atom C (beta) pada atom C gugus pergi
2. tidak terjadi pembentukan karbokation
3. pembentukan secara serempak
Perbandingan E1 dan E2E1
terjadi pada:
1. konsentrasi basa rendah
2. dengan pelarut basa
3. dengan substrat tersier dan beresonansi (alkil halida)
E2 terjadi pada:
1. pada basa kuat dengan konsentrasi tinggi
· Alkil halida+basa kuat+panas à E2
· Alkil halida+asam kuat+panas àE1
· Alkohol+asam kuat+panas à E1

7 komentar
Tolong anda jelaskan tentang sintesis Williamson.terima kasih
BalasHapusapa yang menyebabkan alkil halida tersier bereaksi paling cepat dan alkil halida primer paling lambat?
BalasHapusapa yang menyebabkan Reaksi E2 (eliminasi bimolekular) ialah reaksi eliminasi alkil halida yang paling berguna?
BalasHapusMengapa pada E1 terjadi pembentukan karbokation sedangkan pada E2 tidak terjadi pembentukan karbokation?
BalasHapusDapatkah Anda memberikan reaksi apa saja yang terjadi pada sintesis Williamson?
BalasHapusTolong berikan contoh dari karbokation. Terima kasih
BalasHapusTolong berikan contoh dari karbokation. Terima kasih
BalasHapus